The Law of Color, Studi Kasus Axis dan Telkom Flexi

Logo AxisIngat iklan Axis di TV tentang Togar kecil yang ahli memasang antena TV? Ketika iklan itu mulai berjalan tidak ada sama sekali informasi/identitas tentang Axis. Yang ada hanya warna magenta tua dibubuhi warna emas yang melayang-layang bak pelangi. Kemudian di akhir sesi iklan, identitas Axis baru muncul. Tetapi saya sudah menduga kalau iklan tersebut tentang Axis. Warna “megenta”nya sudah bisa bercerita, Axis banget.

Hal yang sama juga terjadi ketika saya melihat beberapa lapisan warna “norak” hijau, kuning dan merah dengan garis-garis yang seperti gergaji. Saya langsung bisa menduga, ini tentang Telkom Flexi.

Logo Telkom Flexi

Dari kedua kasus di atas kita bisa menyimpulkan bahwa warna telah menjadi sesuatu yang penting dalam pembentukan brand. Al-Ries dan Laura Ries bahkan menjadikan warna sebagai bagian dari “The 22 Immutable Laws of Branding” mereka, tepatnya hukum yang ke-17. The Law of Color berbunyi, “A brand should use a color that is the opposite of its major competitor’s“.

Demikian sekelumit catatan tentang betapa warna penting bagi perusahaan yang ingin memiliki brand yang kuat.

Agus Suhartono

The 11 Immutable Laws of Internet Branding

The 22 Immutable Laws of Branding

The 22 Immutable Laws of Branding

Buku yang sangat terkenal dikalangan marketer adalah “The 22 Immutable Laws of Branding” buah karya Al Ries dan Laura Ries. Berisikan 22 hukum branding yang dianggap abadi sepanjang jaman.

Di dalamnya terdapat tambahan berupa “The 11 Immutable Laws of Internet Branding“. Walau terkesan berlebihan karena dianggap immutable, tetapi hukum-hukum tersebut sangat baik untuk dipelajari.

Berikut daftar dari ke 11 hukum tersebut. Yang sudah bisa diklik linknya, berarti pembahasan detilnya sudah saya posting di blog ini. Continue reading

Corporate Identity, Brand Identity dan Brand Image, Studi Kasus Pertamina

Untuk membangun sebuah Brand, yang perlu difahami pertama kali adalah pemahaman tentang apa itu Corporate Identity, Brand Identity dan Brand Image.

Corporate identity merupakan semua identitas terkait dengan perusahaan, terutama aspek-aspek visual perusahaan seperi logo, warna, bentuk, dll. Perubahan corporate identity tidak akan pernah berhasil menaikkan brand sebuah perusahaan maupun produk/jasa, kecuali disertai dengan perubahan kultur organisasi, kualitas dan standar jasa.

Karena itu sebuah perusahaan memerlukan brand identity, yaitu sebuah rencana atau janji-janji yang dibuat oleh perusahaan kepada konsumen. Hal ini bisa dalam bentuk fitur, atribut, keuntungan, penampilan, kualitas, jasa pendukung serta nilai yang dihasilkan oleh brand tersebut. Continue reading

The 22 Immutable Laws of Branding

The 22 Immutable Laws of Branding

The 22 Immutable Laws of Branding

Buku yang sangat terkenal dikalangan marketer adalah “The 22 Immutable Laws of Branding” buah karya Al Ries dan Laura Ries.
Berisikan 22 hukum branding yang dianggap abadi sepanjang jaman.

Walau terkesan berlebihan karena dianggap immutable, tetapi hukum-hukum tersebut sangat baik untuk dipelajari.
Berikut daftar dari ke 22 hukum tersebut. Yang sudah bisa diklik linknya, berarti pembahasan detilnya sudah saya posting di blog ini. Continue reading

Belajar dari Acer : Mempersatukan Masyarakat dan Technology

Pada umumnya pengelola perusahaan-perusahaan Hi-Tech mempunya latar belakang keahlian teknik. Hal ini menyebabkan gaya manajemen mereka adalah fokus pada produk. Berbeda dengan perusahaan yang dikelola oleh orang yang berlatar belakang pemasaran, mereka akan berfokus pada kunsumen. Stan Shin dari Acer menyebut mereka yang berlatar belakang teknis ini sebagai “Technology Centric“, berlawanan dengan “Customer Centric“. Nah yang menarik Acer berusaha menggabungkan keduanya. Continue reading

Mengapa Brand Penting Bagi Konsumen?

Mengapa Brand Penting Bagi Konsumen?

Brand itu Penting

Mungkin Anda pernah mendengar celotehan “Aku tidak membeli merek(brand) kok!” Jelas pernyataan tersebut mengandung konotasi negatif. Dan pernyataan tersebut pada kondisi tertentu benar, tetapi pada kondisi lain bisa menjadi salah. Yang perlu saya tekankan di sini adalah, bukankah kalau brand membawa sesuatu yang negatif kita tidak memerlukan brand? Apakah benar seperti itu? Continue reading